|
JOGJA: Deklarasi damai telah disepakati,
dilahirkan dan ditandatangani oleh Driss el
Boujoufi dari Badan Hubungan antara kaum Muslim
dengan Pemerintah Negeri Belanda (Contact
Committee Muslims and Government), Dewan
Gereja-gereja di Belanda, serta Awraham Soetendorp
dari Serikat Kaum Yahudi Progresif (Dutch Union of
Progressive Judaism) yang dahulu bernama Serikat
Kaum Yahudi Liberal-Religius di Belanda.
Secara resmi kesepakatan itu akan diumumkan 4
Januari 2009 dalam programma Siaran Muslim Negeri
Belanda.
Beberapa waktu lalu, masih dalam perjalanan
menebar toleransi antar umat beragama, Emha Ainun
Najib, koordinator kelompok musik Kiai Kanjeng
sempat berdialog dengan Driss el-Boujoufi, tokoh
kaum Muslimin Belanda dan Awraham Soetendorp,
pemuka Yahudi Belanda. Hal itu dilakukan saat Kiai
Kanjeng mengadakan perjalanan ke Amsterdam,
Denhaag, Zwolle, Leeuwarden, Deventer, Etten-Leur
dan Rotterdam atas undangan Prostentante Kerk
Netherlands (Dewan Gereja Protestan) selama tiga
minggu.
Menurut Emha, isu yang diangkat adalah
kemanusiaan dan komunikasi kebudayaan di berbagai
segmen serta lapisan komunitas masyarakat Belanda.
Emha menyebarkan berbagai terminologi agama yang
diuniversalkan sehingga menciptakan persambungan
nurani antar manusia dengan agama apa pun.
“Memberi contoh nyaman dan amannya bekerja
sama, serta menumbuhkan saling percaya untuk
memandang ke depan. Syarat utamanya adalah saling
menyumbangkan sikap adil dalam semua urusan, dari
politik global hingga soal panekuk alias apem
Belanda,” kata Emha kepada Harian Jogja.
Menurut suami Novia Kolopaking ini, perdamaian
dan kerja sama itu bukan hanya mungkin, tapi juga
indah dan enak. Setelah berdiskusi dengan Emha,
seorang pendeta senior di Zwolle menyebut Emha
sebagai Ambassador of the Heart.
Sebagai wujud kesungguhan untuk mendamaikan
dunia, Emha bersama tokoh Kristen dan Yahudi
Belanda menyatakan deklarasi perdamaian dunia.
Oleh Angelia Dewi Candra (harianjogja.com) 22 Des
2008
|